Ilmu pengetahuan
merupakan salah satu bidang yang memiliki peran besar dalam mengubah tatanan
kehidupan manusia. Salah satu bidang dalam ilmu pengetahuan yang memiliki
peranan penting dalam kehidupan adalah fisika. Bapak Fisika Dunia, Albert
Einsten pada abad ke-20 dalam teori relativitasnya memaparkan bahwa tidak ada
satu partikel pun yang dapat mengalahkan kecepatan cahaya. Pemaparan Einsten
menyebabkan para ilmuwan dan peneliti merasa penasaran dan ingin membuktikan
apakah cahaya merupakan satu-satunya partikel tercepat di alam semesta ini, Cahaya
melaju dengan kecepatan kurang lebih 300.000 km/detik dalam vakum, tepatnya
299.792.458 meter/detik. Sebagai gambaran, cahaya membutuhkan waktu hanya 0,14
detik untuk mengitari bumi.
Selanjutnya,
di dalam kehidupan nyata, dunia ilmu pengetahuan baru saja dikejutkan oleh
temuan partikel subatomik Neutrino yang bergerak melampaui kecepatan cahaya.
Temuan yang diumumkan pada September 2011 itu, kembali diuji coba pada akhir
Oktober untuk membuktikan bahwa kesimpulan ini bukanlah sekadar spekulasi. Seperti
yang ditulis dalam jurnal ilmiah Nature, temuan luar biasa itu berawal dari
percobaan OPERA, Oscillation Project with Emulsion-tRacking Apparatus.
Percobaan berlangsung 1.400 meter di bawah tanah di Laboratorium Nasional Gran
Sasso, Italia. Di sini, para ilmuwan menghitung berapa lama waktu tempuh Neutrino
yang dikirim dari CERN, suatu laboratorium fisika partikel di dekat Geneva,
Swiss, dengan jarak 731 kilometer. Perjalanan itu ternyata membutuhkan waktu
2,4 milidetik. Harian The Guardian menyebutkan, hasil tersebut diperoleh
setelah melakukan uji coba selama tiga tahun dan mengukur waktu kedatangan
15.000 Neutrino. Dengan kecepatan cahaya 299.792.458 meter/detik, Neutrino yang
melesat pada kecepatan 299.798.454 meter/detik itu telah melampaui kecepatan
cahaya.
Pertama,
hal ini tentu saja menimbulkan ‘gebrakan besar’ dalam ilmu pengetahuan,
khusunya fisika. Setelah lebih dari 100 tahun masyarakat dan ilmuwan dunia
berpedoman pada teori relativitas khusus Einstein, tiba-tiba ditemukan adanya
partikel subatomik yang membantah teori relativitas Einstein. Tentu saja temuan
baru ini menimbulkan banyak kontroversi dan perdebatan di kalangan para ilmuwan
dan peneliti. Bukan hanya di kalangan para ilmuwan dan peneliti, masyarakat di
seluruh dunia juga dibuat gempar dengan hal ini. Pasalnya, Einstein pernah
mengatakan bahwa jika suatu saat ada partikel yang mengalahkan kecepatan
cahaya, maka teori relativitas khususnya otomatis gugur.
Kedua,
timbul pertanyaan, apakah dengan adanya partikel subatomik Neutrino ini ada
kemungkinan bahwa rumus dan teori relativitas khusus akan disusun ulang? Ini
tentu saja menjadi tanda tanya besar dalam benak masyarakat. Jika memang
benar, maka Sains modern khususnya
Fisika berada dalam krisis yang besar, karena dengan adanya perubahan tersebut
berarti perlu dilakukan perubahan teori maupun rumus perhitungan dalam fisika
secara menyeluruh yang berhubungan dengan teori kecepatan cahaya. Untuk itu,
para ilmuwan dan peneliti bidang fisika di seluruh dunia sedang melakukan
eksperimen dan penelitian terkait hal ini serta mencoba untuk mendapatkan jalan
keluar dari masalah ini.
Terlepas
dari permasalahan-permasalahan tersebut, teori bukanlah kesimpulan murni dari
eksperimen. Ini berarti bahwa teori dapat dimodifikasi sesuai dengan hasil
akhir yang didapatkan, bukan berdasarkan eksperimen atau percobaan awal. Fakta
ini juga menunjukkan bahwa setiap eksperimen yang dilakukan berpotensi untuk
menemui kegagalan, dan setiap eksperimen yang dilakukan belum tentu mendapatkan
hasil akhir atau titik penyelesaian, ada kalanya eksperimen menemui jalan
buntu. Jika sudah begitu, peneliti tidak dapat menemukan teori apa pun terkait
eksperimennya.
Setelah
memperhatikan hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan
adalah satu bidang yang sangat kompleks tempat berbagai masalah dibahas guna menemukan
solusi dari masalah itu sendiri. Oleh karena itu setiap orang hendaknya
membekali diri dengan pengetahuan dan wawasan yang luas serta keimanan yang
kuat, dalam rangka menghadapi masalah-masalah di era pengetahuan modern ini.